Pemikiran Orang Jawa Pada Lingkungan


                          

Suku Jawa adalah suku yang terletak di Pulau Jawa, dan menjadi suku terbesar di Indonesia melalui jumlah penduduknya, bahkan suku ini tersebar ke seluruh pulau di Indonesia karena pengaruh Urbanisasinya. Bahkan bahasa Jawa menjadi bahasa yang menjadi bahasa keseharian masyarakat belahan dunia, seperti di Belanda, Malaysia, dan Suriname. Karena Urbanisasi dan pengaruh keturunan suku Jawa pada masa penjajahan Belanda membuat nenek moyang orang Jawa tersebar di penjuru dunia.
Tentu saja nenek moyang orang Jawa tidak hanya membawa bahasa Jawa saja di penjuru dunia ini, melainkan kebudayaan-kebudayaannya. Khususnya budaya orang Jawa pada lingkungan. Orang Jawa mempunyai kebudayaan yang sangat menghargai alam. Contoh, orang Jawa sering memberi sesajen pada daerah yang dianggap keramat sebagai cara untuk menghormati daerah itu, dan rasa bersyukur pada tuhan.
Orang Jawa juga mempunyai aturan tentang alam yaitu, tidak melakukan eksplotasi pada alam yang berlebihan. Orang Jawa percaya bahwa setiap sudut di dunia, mempunyai mahluk penunggu. Mahluk penunggu ini secara harfiah, adalah hewan, tumbuhan, dan mahluk halus. Orang tua Jawa melarang anaknya untuk membabat habis daerah yang dijaga asri, karena dikhawatirkan penunggunya akan marah, bahkan terjadi bencana. Karena, orang Jawa percaya bahwa mereka tidak hidup sendirian di bumi, mereka harus berbagi dengan mahluk-mahluk ciptaan tuhan lainnya.
Contohnya, bila Manusia mengekploitasi pegunungan untuk dibangun segala hal yang berkonsep modern tanpa memperhatikan mahluk-mahluk penghuni sebelumnnya, maka mahluk seperti hewan akan turun ke pemukiman manusia karena tidak mempunyai tempat tinggal dan rantai makanan yang pasti. Dan, itu membuat kasus hewan buas seperti Harimau memakan manusia pada abad 18’ di pulau Jawa, karena pengaruh pertumbuhan manusia di Jawa yang semakin berlebih dan memaksa eksploitasi alam untuk kebutuhannya. Sayangnya, para kucing besar ini dibasmi tidak tersisa pada saat itu, yang mengakibatkan populasi Harimau Jawa (Panthera Tigris Sondaica) punah.

Sudah seringkali dituturkan oleh nenek moyang orang Jawa kepada anak dan cucunya untuk menjaga kesimbangan alam, akan tetapi karena keegoisan manusia dalam kebutuhannya, membuat kasus serupa terus bermunculan. Tidak cukup pada, kepunahan Harimau Jawa, bencana alam menjadi hal yang terjadi karena manusia tidak menjaga lingkungannya. Penebangan pohon yang dilakukan besar-besaran membuat kurangnya serapan air hujan di pegunungan, sehingga membuat longsor, bahkan menganggu sistem ekosistem gunung aktif. Karena, gunung aktif ini membutuhkan keseimbangan tumbuhan didalamnya untuk memproses ekosistem, bila ekosistem ini terputus, maka resiko terjadinya gunung meletus lebih besar.

Nenek moyang suku Jawa sudah berpikir rasional pada lingkungan sebelumnya, akan tetapi dikemas dengan pemahaman yang tidak masuk logika dan sulit dipahami. Dan sangat disayangkan, apabila anak dan cucu suku Jawa malah meninggalkan pemikiran nenek moyangnya ini.

Banyak sekali kasus berpikir rasionalitas orang Jawa yang ditinggal, bahkan dianggap sesat. Seperti memberi sesaji atau larungan pada Bumi. Larungan Bumi ini adalah memberi sesaji atau hasil bumi yang dikelola manusia untuk diberikan pada tempat-tempat keramat yang sudah terjadwal maupun tidak. Larungan Bumi ini dianggap sesat karena berisi keyakinan untuk menyembah mahluk di bumi bukan pada tuhan. Padahal, kegiatan ini bertujuan untuk mengucap rasa sykur pada tuhan, toh hasil bumi ini nantinya akan menjadi makanan bagi mahluk hidup lainnya, seperti larungan Bumi di cilacap yang membuang kepala kerbau ke laut. Nantinya kepala kerbau ini ditujukan untuk menjadi santapan bagi ikan-ikan laut, agar mahluk laut ini dapat berkembang biak dengan cepat, untuk membantu manusia dalam mencari ikan yang disantapnya.
Kebanyakan manusia ‘rasional’ tidak berpikir sejauh itu, mereka hanya menganggap budaya itu tidak penting, bahkan bisa menimbulkan mala petaka. Kebudayaan semacam ini semakin tergerus oleh zaman dan pemikiran manusia.
Akan tetapi, sebaiknya budaya semacam ini disaring kembali, mengambil positif nya. Agar orang Jawa tidak kehilangan kebudayaannya dan tidak menimbulkan pemujaan yang berlebihan. Apabila adat budaya Jawa ini dipikirkan secara mendalam, maka akan menemukan sesuatu yang mendasar dan baik. Hal baik inilah yang harus tetap dilestarikan.
Budaya Jawa ini tidak berbeda dengan budaya suku lainnya, saya hanya mengambil contoh suku Jawa. Saya yakin masih banyak budaya-budaya suku lain serupa yang terus tergerus pemikiran rasionalitas manusia. Inilah peran kita untuk mengambil budaya-budaya khas yang terkesan positif dan melalui pemikiran secara mendalam. Bukan menjadikan budaya ini menjadi budaya yang mutlak dan harus dijalankan tanpa pemikiran.
Pentingnya memilah-milah budaya yang baik ini dapat menjadikan  sadar akan pentingnya budaya sendiri, dan mencegah budaya asli diklaim oleh orang lain. Biasanya pengklaim budaya mengambil peluang ini berdasar pemikiran mendalam, dan kesadaran mereka. Haruslah, budaya dipertahankan, dan dipikirkan secara matang.
Budaya yang mencakup tentang lingkungan juga harus dipikirkan secara benar-benar, karena dampaknya akan besar dan meluas.  Melestarikan alam bisa dimulai dari melestarikan budaya. Budaya seperti menghargai sesama mahluk hidup lainnya ala Jawa adalah contohnya. Menghormati mahluk hidup lainnya dengan cara menjaga lingkungan, ekosistem, tidak egois antar mahluk hidup.
Karena pada awalnya manusia tidak hidup sendirian, hubungan simbiosis mutualisme atau hubungan yang saling menguntungkan antar mahluk hidup bisa menjadi kelanggengan kehidupan di Bumi. Tidak menjadi manusia buta yang termakan ilmu-ilmu asing, malah seharusnya ilmu-ilmu tadisional ini menjadi ilmu asing bagi mereka dalam menjaga lingkungan dan keberlangsungan ekosistem alam.

Hilmy Fahrul Adam Roykhan
NIM : 190521100071
Mahasiswa Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Universitas Trunojoyo Madura

Komentar